Bagaimana melakukan penerapan prinsip-prinsip pemberdayaan perempaun di tempat kerja dimana budaya patriarkhi masih kuat dan menonjol? Apakah sebetulnya beda jenis kelamin dan jender? Bagaimana menindak lanjuti dan mengadvokasi manakala terjadi kasus pelecehan seksual di tempat kerja? Dalam bidang manajemen, adakah kedudukan dan posisi perempuan yang lebih menentukan? Hal-hal di atas mencuat disamping berbagai materi yang padat dari pelatihan yang merupakan tindak lanjut dari penanda tanganan komitmen para CEO perusahaan terhadap prinsip-prinsip WEPs. Tim Partnership-ID merangkumnya dan berikut catatannya.

Acara ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan statement para CEO perusahaan yang mendukung “Women Empowerment Principles” beberapa waktu yang lalu. Mereka yang diundang merupakan wakil dari perusahaan yang telah menandatangani statement dukungan tersebut dan telah muncul dalam website WEPS (www.weps.org) . Hingga tulisan ini dibuat, telah terdapat 93 (sembilan puluh tiga) perusahaan yang sudah menanda tangani WEPS dan dari mereka inilah kemudian diundang untuk mengikuti pelatihan penerapan prinsip-prinsip pemberdayaan perempuan dalam sebuah pelatihan yang digelar oleh UN Women dan Partnership-ID. Sebanyak 13 peserta dari berbagai perusahaan menghadiri undangan ini.

Pelatihan ini merupakan bagian dari menjawab pertanyaan yang kerap muncul: jika sudah menjadi signatories, lalu apa yang bisa dilakukan oleh penandatangan? Dukungan apa yang tersedia dari UNW untuk memastikan bahwa komitmen dari perusahaan tidak berhenti sampai dengan penandatanganan? Apa yang kemudian dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata atau kebijakan diperusahaan dalam rangka mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan? Sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, pelatihan ini juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penerapan prinsip SDG’s (Sustainable Development Goals, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang secara formal telah didukung oleh negara, dan dengan demikian, implementasinya menjadi semacam mandatory bagi para pelaku usaha.

Nara sumber utama yang dihadirkan adalah DA Witasari dan Erna Witoelar dari Partnership-ID. Sesi hari pertama menampilkan berbagai materi dan fakta-fakta yang ditemukan dalam kehidupan dunia kerja dan secara umum di dunia, menyangkut realitas kaum perempuan.

Ditilik dari materi, training ini terhitung sangat lengkap. Pengertian prinsip-prinsip kesetaraan jender, makna prinsip-prinsip pemberdayaan perempuan, penanganan masalah pelecehan seksual di tempat kerja, sampai pada bahasan yang lebih mendetil dan tehnis seperti memajukan peran perempuan dalam rantai pasokan hingga mengintegrasikan gender dalam siklus produksi, menjadi santapan para peserta pelatihan dalam dua hari itu.

Pelatihan ini juga banyak mengungkap hal-hal yang luput dalam keseharian terutama menyangkut bias jender dan umumnya kurang disadari oleh peserta. Semua terungkap lewat contoh-contoh yang ditampilkan dari berbagai video-video yang telah disiapkan. Begitu juga fakta-fakta bagaimana ketika penerapan prinsip pemberdayaan perempuan ini dilakukan, dimana penerapan hal ini justru akan meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

Para peserta juga mendapat kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap penerapan nilai-nilai WEP tersebut di perusahaan-perusahaan masing-masing. Berbagai temuan, menariknya, membuat banyak pihak meyakini nilai-nilai WEPs sebetulnya telah diterapkan di berbagai perusahaan yang diundang. Kasus demi kasus secara alamiah mengalir dan membentuk kesadaran akumulatif bahwa pemberdayaan perempuan sejatinya bukan hal baru dalam perusahaan tempat peserta bekerja.

Di akhir sesi hari pertama para peserta dibagi beberapa kelompok zoom meeting dan mendapat  penugasan yang dipresentasikan pada hari berikutnya. Penugasan ini berupa penyajian makalah yang berupaya menampilkan kemajuan penerapan pemberdayaan perempuan dalam ruang lingkup perusahaan masing-masing. Kemudian para peserta saling membahas antar makalah kelompok itu pada hari berikutnya.   

Dari belasan peserta yang telah hadir mewakili berbagai perusahaan di Indonesia itu, beberapa menyatakan kesannya atas pelatihan ini:

“…. The WEPs training was very insightful, I’ve got a lot of insight from the trainer and also from the fruitful discussion we had during the session. Hopefully more companies will be joining the program, and together we reach gender equality in our community….” Savirandha – HRBP Manager The Body Shop Indonesia.

“…Dengan mengikuti pelatihan tentang prinsip-prinsip pemberdayaan perempuan yang diadakan UN Women dengan Partnership-ID, saya mendapat ilmu dasar yang dapat saya gunakan untuk membuat program ataupun melakukan evaluasi atas kondisi saat ini di organisasi tempat saya bekerja, agar sesuai kaidah pemberdayaan wanita….”

(Dina Novitasari – Supply Chain Lead, PT Advanta Seeds Indonesia)

“…Menurut saya, pelatihan ini sangat penting untuk perusahaan. Khususnya untuk laki-laki, bukan hanya perempuan yang bersuara, tapi laki-laki juga perlu mengerti pentingnya women empowerment agar mereka juga dapat ikut menyusun kebijakan terciptanya kesetaraan di dalam perusahaan itu sendiri…”

Arif Rahman, PT Plasticpay Tech Daurulang

“…Pelatihan WEPs sangat membuka wawasan terkait dengan pemberdayaan perempuan. Banyak hal baru dan praktek baik yang nantinya dapat diterapkan. Dengan adanya parameter dan indikator sebagai monitoring dan evaluasi akan memudahkan sekaligus menjadi panduan bagi perusahaan dalam menyusun dan menjalankan penerapan kesetaraan gender dalam praktik bisnisnya…” Roli Harni Garingging – Industrial Relation &People Development Manager, Astindo Nusantara Jaya Agri.