Terkesima adalah komentar umum, mengutip Adi Pratama dari Oxfam, saat usai menyimak paparan para peserta forum mentoring “Partnership Academy” yang berlangsung pada Kamis, 8 Juli 2021 yang lalu. Sebanyak 14 partisipan secara bergiliran menyampaikan dan mendiskusikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang diperoleh saat mengikuti training pada bulan April lalu, dihadapan sejumlah mentor dari P-ID: Erna Witoelar, Kemal Soeriawidjaja dan Helen Sijabat, serta Adi Pratama dari OXFAM selaku pihak yang bekerja sama dengan P-ID dalam menggelar pelatihan “Partnership – ID” ini.

Program mentoring ini merupakan program kelanjutan dan tak terpisahkan dari program training “Partnership Academy”, dan tema besar yang diambil adalah “Rencana Perbaikan Kemitraan”, atas program-program kemitraan yang sudah mereka jalankan selama ini, dan diproyeksikan serta direvisi berdasarkan berbagai materi pelatihan yang didapat pada bulan April lalu. Sebanyak 7 peserta menyerahkan revisi yang dimaksud dan menjadi bahan diskusi dalam pertemuan itu.

Kelompok E mendapat giliran pertama dan diwakili oleh M. Saleh dari KEHATI-TFCA Sumatera. Saat awal merasa sudah cukup sempurna membuat kerangka kemitraan,  namun dari mentoring itulah disadari bahwa perlu dipertajam untuk apa tujuan dari kemitraan itu. Dikerucutkan lagi, bisnis konservasi yang dipilih adalah kopi di kawasan agro forest yang berada di kawasan perhutanan sosial dan di kawasan penyanggah, kawasan konservasi. Satu hal menarik yang Saleh ungkapkan adalah jika dalam hal program mereka sudah biasa, tapi dari segi bagaimana mempertajam dan pola-pola pengembangan kemitraan ini bisa terlaksana, inilah hal berharga dan insight yang didapat dari pelatihan sebelumnya.

‘Mencetak sejarah’ adalah catatan yang layak disematkan atas kiprah Nor Qomariyah dari KKI Warsi, Kelompok G. Ia mengaku banyak belajar tentang bagaimana memperbaiki, terutama mempertahankan, setelah menginisiasi sebuah forum lintas stake holder dalam hal pelestarian lingkungan, kemudian memperbaiki dan merawatnya. Begitu mulai membuka diri dan ego mulai berkurang, ujungnya bahkan forum itu berhasil memiliki agenda patroli bersama! Hal in membuat Erna Witoelar selaku mentor tergugah berkomentar bahwa apa yang dilakukan Kokom ini sungguh tak biasa. “Karena biasanya LSM lingkungan dan perusahaan justru bermusuhan dan sekarang menjadi teman!”, tegas Erna.

Dengan mengambil filosofi ‘menjahit baju’, Nor menjelaskan bahwa bangunan kolaborasi ini harus dijahit; tidak akan menjadi baju jika hanya melihat/menjahit bagian lengannya atau bagian lain saja tanpa melihat keseluruhan baju. Upayanya berbuah manis. Gerakan ‘patroli bersama’ diangkat oleh Sinar Mas APP untuk model kolaborasi yang bahkan diadaptasi oleh Sinar Mas untuk melakukan kegiatan join patrol sebuah pengelolaan kawasan. Bahkan, “Global Tiger Day” akan diperingati bersama untuk pertama kalinya dalam sejarah kemitraan KKI Warsi!

Ilustrasi – Patroli gabungan di hutan Sumatra memanfaatkan gajah

Selanjutnya, Rujito dari KOSLATA mengakui peran mentor & team PID banyak memberikan masukan, semangat dan dukungan kepada Koslata dalam upaya membangun keberlanjutan program di 2 kabupaten di Lombok Barat dan Lombok Utara. Pembelajaran pertama diperoleh ada pada hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh diri sendiri dan lembaga pada umumnya. Dari pembelajaran-pembelajaran ini yang kemudian diupayakan implementasinya. yang membuahkan hasil walaupun belum pada semua kelompok dampingan. Perubahan-perubahan yang terjadi misalnya berhasil mereka lakukan di salah satu desa di Lombok Barat.

Rasa bangga diutarakan oleh G. Fillyiana Tahu dari Yayasan Amnaut Bife “KUAN” (YABIKU), NTT. Ia menyatakan, mereka mengefektifkan fokus pada prinsip-prinsip kemitraan seperti yang telah dijelaskan oleh mentor seperti perlunya berdiri untuk saling menguntungkan, berani mencoba, dengan mencoba menawarkan diri menjadi inisiator, fasilitator, dengan tawaran ide-ide. Dalam prakteknya, Filly mengaku merasa bangga karena mimpi untuk kemudian para legal ini diakui dan difasilitasi oleh daerah,  tercapai. Setelah itu, melihat peluang karena dana non fisik di Pemkab ternyata besar dan dinas-dinas bingung mau berbuat apa, kembali akhirnya YABIKU menawarkan ide-ide, dan dalam rapat pada 6 Juli, YABIKU diberikan kesempatan mendesain apa saja dan Pemda langsung memfasilitasi. Hal-hal inilah yang membuat Filly merasa berhasil menerapkan sesi PA yang lalu.

Sementara bagi Nuryanti Dewi dari LBH Apik NTB, hal pertama ingin dilakukan adalah bukan bermitra dengan orang lain tetapi justru ingin memperkuat  ke dalam. Mereka menilai kualitas kemitraan di dalam lembaga sendiri, dan belum berpikir bagaimana bermitra dengan lembaga-lembaga lain, karena selama ini sudah memiliki kemitraan yang banyak. Ia mengaku berfikir ulang sebagai lembaga NGO, mengapa dalam setiap kemitraan, ketika program selesai maka berakhir pula hubungan kemitraan yang ada. Hal-hal ini yang penting dan menarik dipelajari guna memperkuat lembaga, termasuk apa yang dapat menyebabkan kemitraan itu dapat gagal atau terhenti.

Tentu tidak semua hal selesai saat mentoring digelar. Kelompok H yang diwakili oleh Rizki Estrada dari Perkumpulan Inisiatif, adalah contohnya. Dari beberapa materi yang telah disampaikan, yang coba dilakukan adalah meng koreksi beberapa tujuan kemitraan, berangkat dari 1 pengalaman dan juga hasil diskusi dengan beberapa pelaku khususnya penanganan bencana longsor. Dari sini ia mendapati dari materi mentor Kemal Soerawidjaja, tentang sisi NGO apa yang dapat menawarkan value yang bisa diadopsi berikut strategi pendekatannya, dapat membantu. Namun kendalanya kembali ke aspek legal, karena proses sengketa lahan tidak mudah. Belajar dari mentor Erna Witoelar bagaimana mensinergikan beberapa indikator pembangunan global dan yang diturunkan saat ini dengan keberlanjutan program yang se level desa. Maka ia berkesimpulan, koreksi perbaikan kemitraan adalah melakukan evaluasi dulu karena bottle neck nya saat ini melekat kepada keputusan pemerintahan kabupaten berkaitan dengan penyediaan lahan untuk rumah hunian tetap dari 135 penyintas.

Saat mengomentari paparan rekan-rekannya, Wikan Astuti  dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia mengakui, selama ini tidak sadar jika pihaknya sudah berperan sebagai broker. Lembaga YKAI selama ini hidup dari proposal, sehingga hampir tiap hari mencoba bermacam hal. Memiliki program dan mitra yang cukup banyak, Wikan mengakui YKAI banyak belajar dari PA tentang bagaimana mengenal dan menjalin komunikasi dengan para mitra. Sementara, mengenal mitra tidak mudah karena harus menyesuaikan dan dengan komunikasi yang baik itu semua dapat diselesaikan. Pentingnya mengenal mitra agar tidak terjadi mis-komunikasi, makin disadari. 

Lebih lanjut, bagaimana menyelesaikan keinginan satu mitra adalah tantangan yang dikemukan oleh Novita Irawati dari SOS Children Village (SCV). Salah satu mitranya adalah sebuah perusahaan yang mempunyai program dengan Lembaga internasional, namun sudah selesai di Indonesia. Karena relasi yang sudah terbangun sebelumnya, mereka ingin melanjutkan kembali kemitraan dengan SCV. Namun ketika mengajukan proposal, isunya adalah bahwa kemitraan bersifat tahunan (yearly basis) sementara hasil riset baru bisa dilihat 2-5 tahun kemudian. Maka mereka ingin agar dalam 1 tahun impact nya bisa terlihat. Bisa dimengerti karena pendanaan yang diberikan cukup besar, maka SCV kemudian merubah proposalnya. Pembelajaran dari Partnership Academy mengenai prinsip-prinsip kemitraan dimana menghargai keragaman, menerapkan kesetaraan, keterbukaan, saling menguntungkan, serta harus tetap percaya diri dengan value dan isu yang dibawakan, memudahkan pihaknya melakukan negosiasi dengan mitranya itu.

Sementara itu, Muh. Nur Ala dari Lakpesdam NU, berpendapat bahwa Lakesdam tidak sama dengan NGO pada umumnya, karena Lakesdam adalah lembaga yang bekerja untuk kepentingan ormas NU. Meski demikian, ia mengakui kerja-kerjanya sangat terbantu melalui pelibatan secara pribadi di PID karena terkait fasilitasi pengembangan SDM di internal NU di Kabupaten Bulukumba, dan hal ini sangat banyak gunanya selama mengikuti proses belajar di PID.

Ada pun bagi Haris Oematan dari Perkumpulan Relawan CIS Timor, hal paling berkesan dari PA adalah cara berpikir kemitraan. Terkait dengan prinsip keterbukaan dan prinsip kemitraan lainnya, mereka telah uji cobakan dalam menggarap program di Timor Tengah Selatan (TTS). Hasilnya menarik. Dinas sosial misalnya, sampai mengatakan bahwa selama ini urusan bencana yang dilibatkan hanya BPBD saja. Baru kali ini Dinsos diajak bicara dan dan ternyata hasilnya luar biasa. Secara terbuka Dinsos sampai menyampaikan program LSM dan anggarannya, dan berbagai pihak dari dinas-dinas terkait menyatakan bahwa untuk program ini mereka bisa saling support.

Begitu juga dengan pelibatan sektor swasta. Menurut Haris, baru hari – hari ini di TTS bisa terjadi kolaborasi dengan tokoh-tokoh pengusaha. Mereka kaya tetapi kondisi masyarakat jauh berbeda. Dengan menjalin pertemanan, Haris penuh percaya diri  mengatakan, “Maka itu Tuhan bilang susah kamu masuk kerajaan di Surga karena ini. Karena kamu jadi sangat kaya tapi tidak melihat situasi di masyarakat”. Maka berlangsunglah 3 kali diskusi dan disepakati akan meluncurkan perusahaan kecil yang isinya gabungan antara pengusaha, LSM, pemerintah, dan para pemerhati masyarakat. PT ini akan fokus pada bagaimana mendorong ekonomi yang kuat di masyarakat dengan distribusi barang dengan harga sama di komunitas, pada bulan Agustus mendatang. Dari pembelajaran ini Haris mengakui, harus mempunya visi yang kuat, bahwa visi kemitraan adalah sesuatu yang mungkin, sesuatu yang benar, sesuatu yang harus di “Imani”…

“… Maka itu Tuhan bilang susah kamu masuk kerajaan di Surga karena ini. Karena kamu jadi sangat kaya tapi tidak melihat situasi di masyarakat…”

Haris Oematan – Perkumpulan Relawan CIS Timor

Saling mengakui manfaat PA ini, juga disebut-sebut  oleh Slamet Santoso – Yayasan Arek Lintang (Alit). Baginya,PA membuka pikiran secara luas dan berjejaring dengan sesama peserta, berbagai lintas bidang. Alit bergerak di perlindungan atas eksploitasi dan lain-lain yang berhubungan dengan anak. Secara pribadi dan lembaga, pelatihan ini membuka pikiran secara luas bagaimana bermitra dengan teman-teman peserta yang mungkin masih berkaitan dengan antara hak anak dan isu lingkungan, dengan ketahanan pangan yang berada di wilayah masing-masing. Biarpun bergerak dalam perlindungan anak, tapi dilintas batas/isu juga mulai berpikir secara ‘out of the box’ untuk mengembangkan ketahanan pangan bagi warga yang didampingi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Moh. Saleh, kalau bicara soal program ia mengaku sudah hafal, tapi bagaimana bermitra, bagaimana berjejaring dan membangun satu sama lain, berpikir secara luas, serta bagaimana mengelola dengan baik, itu yang didapatnya dari pelatihan PA yang lalu.

PARA MENTOR BERSUARA

Paparan para peserta mengundang komentar positif para mentor. Erna Witoelar mengaku sangat bangga dengan kemajuan para peserta. Pelatihan dan mentoring ini bukan sesuatu yang terlalu ‘wah’ tetapi para peserta mampu mengangkatnya jauh lebih besar dari diri sendiri, dan kemudian bisa mempengaruhi pemerintah yang biasanya tidak menganggap. Stake holder lain ternyata bisa dipengaruhi dan membuat mereka jadi tergantung atau memanfaatkan kemampuan peserta untuk bergaul dengan masyarakat.

Begitu juga dengan private sector, para peserta mampu membuat mereka melihat perspektif peserta yaitu perspektif masyarakat, dan terutama di beberapa peserta lain yaitu perspektif gender. Jika semula tidak penting untuk mereka (karena yang penting profit), tapi kemudian mampu untuk memasukkannya. Yang lebih hebat lagi mereka mampu mengambil sisi positif private sector yaitu manajemen yang profesional, untuk diterapkan di LSM. “…Ini sudah masuk prinsip kemitraan itu, ada simbiosis mutualistis, ada trust building, dan memang memanfaatkan semua pihak,” tukas Erna.

“…Ini sudah masuk prinsip kemitraan itu, ada simbiosis mutualistis, ada trust building, dan memang memanfaatkan semua pihak….”

(Erna Witoelar)

Helen Sijabat seolah mengamini ungkapan Erna Witoelar. Mengaku kagum pada semua peserta, ia berharap pengalaman dari pembelajaran dapat ditularkan. Ia juga sangat terkesan, ternyata melalui kemitraan itu muncul sikap berani mempengaruhi, dan rela dipengaruhi. Ada 2 dikotomi yang kontradiktif tapi berjalan di dalam satu kesempatan. Ia mengucapkan selamat untuk semua peserta, sambil berpesan untuk jangan lupa dengan ‘helicopter view’, serta details yang juga harus ada dalam tiap presentasi. Dari itu, Kemal Soeriawidjaja menyodorkan 3 kata kunci dari pembelajaran yang bisa mempengaruhi dan melihat efektifnya suatu kolaborasi kerjasama: membangun kepercayaan, dialog dan melihat perspektif dari sisi yang lain. Disebutnya, mentoring ini bukan akhir dari segalanya karena partnership pada hakikatnya adalah suatu journey.

Adi Pratama dari Oxfam mengaku, secara umum sangat terkesima dengan progres yang dicapai hingga hari itu, progres yang signifikan dalam banyak aspek. Ia berharap energi/semangat ini terus bergulir melalui motor partnership brokering dan secara hukum alam akan ada proses yang membuat berbagai komunitas penggerak. Oxfam juga berharap kemitraan untuk kelompok civil society itu perlu lebih agile terutama untuk menjalin kemitraan dengan sektor swasta. Ke depan, Adi berharap para peserta sanggup melakukan banyak kolaborasi lintas organisasi dan level mulai dari internasional, global, regional sampai dengan tingkat kabupaten, dan ia semakin optimis bahwa 2030 bisa tercapai dengan sangat baik jika kemitraan multi pihak seperti ini terus dilontarkan.

Melihat begitu signifikannya hasil Partnership Academy ini, sudah saatnya perusahaan atau NGO Anda memperoleh insight serupa. Hubungi Ika (0816 944 732) atau Rita (0811 973 108) untuk keterangan lebih lanjut. (isa/tip).