Merdeka.com – Papua merupakan provinsi dengan wilayah terluas dan memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah, baik pertambangan, pertanian, kehutanan, sektor kelautan dan perikanan. Agar pembangunan Papua dapat berjalan maksimal diperlukan kolaborasi, sinergi dan kemitraan antara pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen), Apolo Safanpo dalam acara talkshow berjudul ‘Kemitraan Multi Pihak untuk Pembangunan Berkelanjutan di Papua’ yang diselenggarakan Universitas Cenderawasih bekerja sama dengan lembaga Partnership-ID dan didukung PT Freeport Indonesia.

“Dalam membangun Papua, pendekatan kemitraan ini menekankan masyarakat Papua yang harus berdaya, karena tidak mungkin orang lain yang membuat masyarakat Papua sejahtera. Rakyat Papua harus berdaya dan orang lain membantu sebagai mitra,” kata Apolo.

Pendiri Partnership-ID, Erna Witoelar mengatakan, pembangunan Papua akan mendapatkan manfaat dari kemitraan multi-pihak berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Sekarang mungkin belum begitu terlihat, namun ke depan akan makin banyak aspirasi dari Papua mewarnai pelaksanaan SDGs dengan banyaknya kemitraan yang dijalankan dengan baik di sini,” ucap mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah ini.

Erna yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Millenium Development Goals (MDGs) Asia Pacific ini mengajak seluruh pihak yang berkepentingan di Papua, untuk bekerja sama dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan tersebut sebagai upaya untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi lingkungan hidup, dan memastikan semua orang menikmati kemakmuran dan kedamaian.

Vice Presiden Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama sependapat dengan dua narasumber tersebut. Kemitraan yang dijalankan dengan baik adalah modal untuk Papua lebih maju lagi.

“Kami membangun sendiri sesuai apa yang kami anggap perlu. Kami membangun berbagai sarana dan infrastruktur seperti klinik, rumah sakit dan sekolah. Ketika akhirnya mulai ada mitra yang bisa diajak berkolaborasi, kami membangun kemitraan. Berdasarkan pengalaman, tanpa peran serta dan partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam program, hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal dan berdampak pada efektivitas program,” papar Riza.

Menurutnya, sejak lama Freeport Indonesia mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan sebagai bagian integral operasi perusahaan. Menurutnya kontribusi Freeport dimaksudkan menjadi stimulus bagi pembangunan yang berkelanjutan dan bukan sekedar hibah.

Senior Manager Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), Soleman Faluk menjelaskan, usaha IPN dan Freeport untuk bermitra dengan masyarakat dalam menyiapkan tenaga terampil di sektor pertambangan.

“Umumnya perusahaan-perusahaan ingin orang Papua yang bagus dan disiplin serta memiliki skill yang bagus. IPN tidak hanya mendidik skill peserta didik, tapi juga melakukan pendidikan karakter agar sesuai dengan kebutuhan profesional yang diharapkan oleh perusahaan tempatnya bekerja nanti,” terang Soleman.

IPN adalah lembaga non formal pendidikan yang didirikan tahun 2003 sebagai bagian dari salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam bidang pengembangan SDM Papua. IPN memiliki 16 program atau jurusan dan disertai program pengembangan berbasis kompetensi. Hingga tahun 2018 total peserta yang diterima dan dikembangkan di IPN sebanyak 4000 siswa. [idr]

Source: https://www.merdeka.com/uang/pentingnya-kolaborasi-dalam-pengelolaan-kekayaan-papua.html

Tags: