RAJUT INDONESIA

“Industri Tekstil dan Fesyen Indonesia Menyambut Era Tatanan Baru”

Roundtable RAJUT INDONESIA​

Pandemi Covid-19 berdampak ke semua industri, tak terkecuali tekstil dan fesyen, yang mengubah semua tatanan kehidupan. Untuk memahami perubahan tersebut, Partnership-ID1 bekerja sama dengan asosiasi industri, organisasi nirlaba, pakar keberlanjutan, dan akademisi menyelenggarakan Roundtable Discussion virtual pada 7 Juli 2020.

Diskusi bertujuan untuk berbagi pengalaman di lingkup industri tekstil dan fesyen dalam menyikapi pandemi, merumuskan bersama ketahanan rantai industri tekstil di masa depan, serta melihat peluang-peluang baru di era tatanan baru. Diskusi yang dihadiri oleh 32 peserta (26 perusahaan/lembaga), berhasil membangun kohesi di antara para pemangku kepentingan yang memiliki kesamaan visi mengenai prinsip keberlanjutan (sustainability) dan pentingnya kolaborasi.

Diskusi yang dimoderatori Yanti Triwadiantini, Founder/CEO Partnership-ID mengundang pembicara dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI). Dua perusahaan, H&M dan Asia Pacific Rayon (APR) juga memberikan aspirasi.

Hasil diskusi menyoroti beberapa hal, di antaranya:​

Erna Witoelar, pakar pembangunan dan kemitraan berkelanjutan, menekankan pendekatan berkelanjutan – meliputi aspek-aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup – harus dilakukan secara simultan. Hal ini membantu industri tekstil di Indonesia agar dapat bertahan, dan memudahkan untuk memasuki era tatanan baru. Fesyen ramah lingkungan juga menyatukan kepentingan konsumen dengan tanggung jawab lingkungan. Kemitraan multipihak dan kolaborasi lintas sektor disarankan, dimana sektor swasta bekerja sama dengan lembaga nirlaba dan academia, untuk memastikan manfaat dirasakan oleh komunitas dan masyarakat luas.

01.

Pembicara I: Rizal Tanzil Rakhman, Direktur Eksekutif API.

Keunggulan kompetitif industry tekstil dan fesyen Indonesia memungkinkan pertumbuhan yang potential melalui optimisme dan keberanian untuk mengejar kepentingan bersama. Hasrat untuk berkolaborasi dapat dilakukan melalui integrasi, modernisasi, konektifitas, untuk mencapai keberlanjutan.

04.

Pembicara IV : Basrie Kamba, Direktur APR.

Secara global, terjadi gelombang baru dalam industry fesyen. Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi fesyen, dan pada saat yang sama, merupakan rumah bagi para pengrajin berbakat serta UMKM dengan segmen lengkap industri tekstil dan pakaian – dari hulu, tengah, dan hilir. Oleh karena itu, tepat waktunya bagi negara untuk membangun sinergi, peta jalan untuk industry ini dalam menghadapi Kenyataan Baru dan tantangan-tantangan ke depan. Kita hanya bisa menang dalam kompetisi terhadap negara-negara lain melalui aksi bersama dan prioritas. Mari kita bangun platform kebersamaan.

02.

Pembicara II: V. Ravi Shankar, Ketua Umum APSYFI.

Masa pandemi mengakibatkan dampak positif dan negatif. Untuk keberlanjutan bisnis diperlukan inovasi dan keunggulan kompetitif, termasuk mengganti katun dengan polyester dan viskos. Pelaku bisnis membutuhkan kejelasan peraturan, khususnya dalam menghadapi kompetisi dengan produk-produk import. Tanpa integritas, prioritas, dan insentif, produk lokal akan terancam. Indonesia harus mengamankan bahan baku milik sendiri, tidak import, dan untuk itu diperlukan komitmen dan kepercayaan diri untuk menyelamatkan industry tektil dengan mengubah pola pikir jangka panjang.

03.

Pembicara III: Anya Sapphira, Regional Manager Sustainability H&M.

Ekosistem tekstil/fesyen melibatkan pemain-pemain kunci dalam rantai nilai. Berkelanjutan sangatlah penting untuk dunia. H&M memberikan perhatian kepada kebutuhan atau tuntutan pelanggan, namun, suatu komitmen merupakan keputusan besar dan akan memakan waktu. Kolaborasi adalah kunci untuk perubahan yang sukses bagi keberlanjutan.

TINDAK LANJUT

Partnership-ID2 akan membantu para pemangku kepentingan untuk membangun platform kolaborasi rantai nilai industri tekstil dan fesyen yang berfokus pada ketahanan bisnis, perlindungan lingkungan hidup, dan kesejahteraan sosial.


Lembaga-lembaga dan para perusahaan yang relevan akan diundang menjadi pendiri atau penggagas dari platfom tersebut. Roundtable Rajut Indonesia II dijadwalkan pada akhir September 2020, berfokus pada aksi bersama yang nyata. Para pemangku kepentingan akan diminta pendapatnya mengenai pembentukan suatu platform kemitraan yang diharapkan akan diresmikan pada acara Roundtable Rajut Indonesia III sebelum akhir tahun ini.


Diharapkan prakarsa ini akan membangun basis konsumen/pembeli yang menghargai produk hijau, memperkuat kapasitas rantai suplai industri terkait, yang pada akhirnya akan meningkatkan reputasi dan kesetaraan di antara pelaku bisnis tekstil dan fesyen di Indonesia.