Panduan dalam menentukan peran, menunjuk dan menilai kinerja seorang broker.

Oleh Ros Tennyson dan Bulbul Baksi.

Dalam artikel yang ditulis oleh dua pakar kemitraan dalam Jurnal The Partnership Brokers Association pada bulan Juli 2018 ini, dibahas secara terperinci berbagai hal yang terkait dalam menetapkan seorang broker kemitraan, lengkap dari mulai kriteria personil hingga tata cara perekrutannya. Tulisan ini begitu komprehensif, sehingga kami membaginya dalam beberapa seri tulisan. Artikel aslinya terdapat dalam tautan yang kami sertakan. Pada bagian pertama ini diketengahkan hal-hal seputar peran strategis yang mendasar dari seorang broker kemitraan, bagaimana seorang broker kemitraan diperoleh, dan pertanyaan diseputar hal – hal tersebut. Sebagai catatan, istilah “partnership broker” dalam tulisan ini secara bebas diterjemahkan bergantian antara “pialang kemitraan” mau pun “broker kemitraan” namun bermakna sama.

Mengapa Perlu Menunjuk Broker Kemitraan?

Kemitraan multi-stakeholder (dan bentuk aliansi atau usaha kolaboratif lainnya) seringkali rumit dan terkadang sangat kompleks, karena hal itu sangat bergantung pada membangun hubungan kerja yang kuat dan proses operasional antara individu yang sering datang dari latar belakang beragam dan dengan nilai serta pendapat yang sangat berbeda. Bukan hal yang aneh, karena banyak yang telah kecewa, jika kemitraan gagal mencapai tujuan dan potensi mereka.

Kolaborasi yang bermakna membutuhkan upaya yang cukup besar untuk membangun dan memelihara kemitraan hingga matang. Merupakan tantangan serius untuk membentuk pengaturan kolaboratif yang kuat dan produktif yang bekerja secara efisien dan efektif tanpa hambatan dalam hal risiko dan investasi atau melibatkan tingkat kompromi yang tidak dapat diterima.

Bagaimana kemitraan yang kuat, tangguh, dan konstruktif dapat dibangun? Dan, yang terpenting, siapa yang akan diletakkan pada tempat terbaik untuk membantu para mitra membangunnya?

Pialang kemitraan (partnership broker, PB)[i] (baik digambarkan dengan cara ini atau tidak) semakin terlihat memainkan peran penting dalam kolaborasi multi-pemangku kepentingan yang efektif. Pialang kemitraan bertanggung jawab untuk:

  • Membangun dan memelihara hubungan kerja yang produktif antara para mitra
  • Memastikan kemitraan yang inovatif, tepat dan efisien serta. Mendorong mitra untuk mencapai manfaat dan dampak yang optimal.
  • Mempertahankan fokus pada hasil yang berkelanjutan.

Pialang kemitraan memiliki peran yang begitu halus namun penting dalam membantu menumbuhkan dan membentuk kemitraan sehingga, dalam kondisi terbaiknya, mereka dapat dilihat sebagai perwujudan model kepemimpinan baru[ii] dengan serangkaian atribut kepemimpinan non-tradisional termasuk:

  • Kemampuan untuk melampaui batas melalui pengembangan empati dengan kebutuhan, keinginan, dan perhatian masing-masing mitra.
  • Kapasitas untuk memberi ruang dan membantu mitra bekerja melalui konteks yang kompleks, kaya informasi, bergerak cepat, tidak stabil secara politik, dan tidak setara secara ekonomi.
  • Keterampilan dalam menyediakan dan memfasilitasi interaksi produktif antara berbagai kelompok masyarakat.
  • Kesediaan untuk menanggung tingkat risiko atas nama, atau untuk kepentingan, orang lain.
  • Kemampuan untuk menginspirasi orang lain dengan visi mereka tentang masa depan yang lebih kooperatif.
  • Bersikap rendah hati terhadap pencapaian mereka sendiri sehingga orang lain benar-benar diberdayakan

Dilihat dengan cara ini, menjadi jelas bahwa peran-peran pialang atau broker ini sangat penting – mungkin amat penting – untuk membangun kemitraan sebagai mekanisme yang mampu mengatasi tantangan besar dunia.

“Sebagai broker kemitraan, saya tidak bisa menyelesaikan semua tantangan kemitraan. Pada kenyataannya, penting bagi saya untuk melibatkan mitra dalam mengidentifikasi tantangan-tantangan dan bersama-sama menemukan strategi untuk menghadapi perselisihan atau menyingkirkan berbagai hambatan. Secara kolektif kelompok memiliki lebih banyak keahlian, ide, dan sumber daya. Ini bukan bicara tentang bagaimana saya membuat kemitraan berhasil tetapi memungkinkan sekelompok mitra untuk mencapai tujuan bersama yang tidak dapat mereka capai sendiri. Sebagai broker kemitraan, saya tidak mengontrol kemitraan, alih-alih begitu saya melakukan yang terbaik untuk ‘mencoleknya’ ketika kemitraan tersebut bergeser arah atau macet. Saya mengajukan pertanyaan sulit ketika perhatian orang lain terfokus di tempat lain.”

Mempertimbangkan Beberapa Pertanyaan

  1. Darimana seharusnya broker kemitraan berasal: ‘internal’ atau ‘eksternal’?

Broker internal adalah mereka yang mengelola proses kemitraan dari dalam salah satu mitra organisasi (kebanyakan, tetapi tidak selalu, dari organisasi yang memimpin dalam memulai kemitraan). Tugas-tugasnya meliputi:

  • Mempersiapkan organisasi mereka untuk berkolaborasi dalam kemitraan multi-sektor – hal ini mungkin juga termasuk mengambil peran memulai atau mengadakan kemitraan.
  • Menegosiasikan dan mewakili keterlibatan organisasi mereka dalam kemitraan.
  • Memainkan peran kunci dalam mengelola, mengembangkan dan memelihara pengaturan kemitraan
  • Mencakup batas sehingga setiap mitra dapat mengandalkan dirinya untuk menjadi transparan, adil, dan bekerja bagi keuntungan kemitraan di samping organisasi spesifiknya.

Risiko yang paling jelas bagi broker internal adalah risiko menjadi (atau dianggap menjadi) terlalu memihak organisasi mereka sendiri dan karena itu tidak dapat cukup objektif dalam membantu mitra membuat keputusan kunci dalam kemitraan.

Sementara broker eksternal adalah mereka yang bekerja sebagai profesional independen yang dikontrak oleh salah satu dari organisasi mitra atau oleh kemitraan itu sendiri, biasanya untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Tanggung jawabnya dapat mencakup:

  • Menjajaki kemungkinan mengadopsi pendekatan kemitraan.
  • Memfasilitasi negosiasi untuk mengembangkan kemitraan dan/atau kesepakatan kemitraan.
  • Menjaga atau memantau efektivitas dan/atau nilai tambah kerja sama yang bersifat ‘over time’
  • Membangun kapasitas kelembagaan (baik dari organisasi mitra atau kemitraan itu sendiri) untuk memberikan program yang efektif dan hasil yang berkelanjutan.
  • Meninjau kemitraan agar mampu menanggapi kebutuhan dan kekhawatiran yang muncul.
  • Menjangkau batas-batas sehingga setiap mitra percaya dan mengandalkan dirinya untuk bersikap transparan, adil, dan bekerja untuk kepentingan kemitraan.

Untuk broker eksternal, risiko yang dihadapi  (baik nyata mau pun yang dirasakan) umumnya karena posisi mereka terlalu jauh dan hanya memiliki sedikit kepentingan mempertahankan komitmen untuk keberhasilan kemitraan ketika keadaan menjadi sulit.[iii]

Bisakah peran perantara kemitraan dilakukan oleh lebih dari satu orang?

Jawaban atas pertanyaan ini tergantung, setidaknya sampai batas tertentu, pada skala, kompleksitas, dan tujuan dari kemitraan. Beberapa kemitraan dimulai dengan satu broker dan memperluas peran tersebut untuk bergabung dengan pihak lainnya sesuai kebutuhan. Ketergantungan yang berlebihan pada satu individu merupakan kasus yang dapat membuat tekanan hingga tingkat yang serius karena mereka berusaha untuk memenuhi berbagai peran. Hal itu juga dapat membuat ketergantungan yang tidak semestinya dari mitra. Menyebarkan peran terlalu luas, bagaimanapun, dapat menambah tingkat kebingungan yang tidak perlu dan menjadi pemborosan sumber daya.

Beberapa pihak memecahkan masalah ini dengan membuat serangkaian kontrak jangka pendek hingga menengah dengan tugas yang spesifik dan tujuan yang terikat waktu. Yang lain menyelesaikannya dengan pendekatan yang jauh lebih luwes dengan secara sederhana menerima bahwa peran akan berubah dari waktu ke waktu atau bahwa itu akan dibagi antara sejumlah orang yang berbeda dan sesuai (baik kalangan internal atau eksternal kemitraan).

Penguatan kapasitas adalah bagian penting dari perantara kemitraan. Pialang kemitraan berbagi tanggung jawab dengan perwakilan mitra lewat membangun kapasitas di antara mereka yang tampaknya memiliki atribut dasar dari broker kemitraan yang baik. Kepemimpinan bersama adalah karakteristik dari kemitraan. Maka pialang kemitraan dapat diharapkan untuk mencontohnya ketika mereka menjadi perantara.


[i] Istilah ‘broker’ ini tidak selalu merupakan istilah yang digunakan karena kami menyadari bahwa dalam beberapa konteks, hal ini tidak tepat – istilah alternatif bisa saja digunakan, seperti agen perubahan, manajer proses atau perantara.

[ii]Kepemimpinan seperti itu telah digambarkan sebagai kepemimpinan yang tidak terlihat; kepemimpinan melayani atau kepemimpinan fasilitatif

[iii] Selama masa kemitraan, mungkin menjadi jelas bahwa pada waktu tertentu broker eksternal lebih disukai, dalam hal ini mereka yang bertindak sebagai broker internal dapat melangkah kembali ke peran yang berbeda (mungkin hanya bertindak sebagai perwakilan organisasi mereka sendiri dalam kemitraan). Bahkan tidak jarang individu berpindah dari broker internal ke eksternal (atau sebaliknya) sebagai persyaratan untuk perubahan peran dan/atau hubungan kerja mereka dengan perusahaan kemitraan yang bermetamorfosis dari waktu ke waktu. Misalnya, seorang broker internal dapat diperbantukan ke kemitraan atau seorang broker eksternal dapat dipekerjakan oleh kemitraan untuk jangka waktu tertentu.