Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) lahir bertepatan dengan peringatan ke-20 “Deklarasi Hak-hak untuk Anak”, 17 Juli 1979. Para pendiri seperti Ibu Tien Soeharto, Nelly Adam Malik, Lasiyah Soetanto, Anindiati S. Moerpratomo dan Lily I. Rilantono, percaya bahwa suatu masyarakat yang berkualitas hanya dapat dibangun melalui peningkatan kualitas anggota-anggota masyarakat dari sejak masa kanak-kanak dengan melindungi (menjamin) hak-hak dasar dan kebutuhan fisik, mental serta spiritualnya. Berjalan hingga lebih dari 40 tahun sejak kelahirannya, YKAI kini dikenal sebagai lembaga swadaya masyarakat dengan misi meningkatkan kesejahteraan anak-anak di Indonesia, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan kajian, advokasi hingga pelayanan langsung kepada anak. Dengan mencermati latar belakang itu cukup jelas bahwa kemitraan (partnership) dengan berbagai sektor, lembaga mau pun stake holder lainnya, menjadi sebuah kemestian bagi YKAI. Tim P-ID mewawancarai Wikan Mardi Astuti, Head of Secretariat / Field Coordinator of Program Division  yang juga merupakan peserta Partnership Academy tahun 2021 lalu. Kepada Teguh IP dari P-ID, Wikan yang menggeluti dunia advokasi anak sejak masa usai kuliah itu bertutur bagaimana pola-pola partnership dijalankan oleh YKAI dalam menangani berbagai isu yang dihadapi anak-anak Indonesia, hingga kiat-kiatnya mendapatkan kepercayaan berbagai mitra dalam dan luar negeri.

Bisa dijelaskan, apa yang menjadi fokus utama dari YKAI saat ini dan kaitan dengan tujuan berdirinya YKAI.

YKAI didirikan pada tanggal 17 Juli 1979, terinspirasi oleh Deklarasi PBB tentang Hak Anak. Untuk itu, yayasan telah membuat semua upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak-hak anak untuk bertahan hidup, tumbuh dan berkembang ke arah seorang individu dengan martabat manusia.

Jadi, fokus utama YKAI adalah advokasi dibidang hak anak, yakni hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi. Hal ini terkait dengan dengan prinsip SDGs atau Sustainable Development Goals, ya. Maka hal itu sesuai dengan misi dan misi YKAI yaitu meningkatkan kualitas dan kesejahteraan anak Indonesia melalui upaya-upaya peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat, untuk mengembangkan potensi anak sesuai dengan hak-haknya serta penciptaan lingkungan yang  memberi peluang, dukungan, kebebasan dan perlindungan untuk menunjang perkembangan rohani, jasmani, mental dan sosial anak. Sehingga kini YKAI memiliki status sebagai UN Consultative Status ECOSOC (Economic Social Council) sejak 2002.

Wikan Mardi Astuti

Bagaimana YKAI bisa mendapatkan status itu?

YKAI itu ‘kan salah satu pendiri dari International Forum for Child Welfare, (IFCW) yang beranggotakan beberapa negara. Waktu itu IFCW didaftarkan pada UN DESA (Departmen Economic and Social Affairs). Kemudian perwakilan dari IFCW di wawancara oleh kedutaan dari 5 negara yang mendapatkan hak veto.  Karena YKAI sebagai salah satu member dan pendiri IFCW kegiatannya di bidang anak cukup banyak, maka YKAI menjadi salah satu (Lembaga) yang mendapatkan consultative status dari ECOSOC dan bertanggung jawab untuk melaporkan kegiatannya setiap 4 tahun sekali

Apa isu utama persoalan anak di Indonesia dan pada hal apa saja YKAI terlibat dan berperan?

Satu, program di bidang hak hidup. Untuk itu kami mengadakan lomba balita Sejahtera Indonesia selama 15 tahun, yang bertujuan mencegah stunting, dan program 1000 hari pertama, revitalisasi posyandu.

“……. Project yang sedang digarap saat ini yaitu bantuan pendidikan untuk siswa SMA bekerjasama dengan  PT Protelindo. Lalu ada juga Academic Program dan Beasiswa Perguruan Tinggi bekerjasama dengan Colruyt Belgia dan Program program pelatihan dan webinar dengan berbagai pihak yang terkait. Dengan Colruyt ini, peserta beasiswanya mendapatkan kesempatan magang di Belgia….”

Dua, di bidang hak tumbuh kembang. Jadi, kami dorong dan mendirikan PAUD di wilayah pengirim PMI atau Pekerja Migran Indonesia, perpustakaan keliling di wilayah kumis atau kumuh miskin, pemberian beasiswa bagi anak SD hingga Perguruan Tinggi dan penyediaan taman bermain.

Tiga, bidang hak perlindungan, berupa program pencegahan pekerja anak, perdagangan anak, pekerja rumah tangga anak, pencegahan narkoba, kekerasan, (siaga di tempat) bencana alam, lingkungan hidup, juga berupa pelatihan tentang advokasi anak. Bentuknya macam-macam, dari pembuatan video diary, melek digital, informasi dan keuangan.

Empat, bidang hak partisipasi. Maka kami garap penumbuhan dan pengembangan minat anak berupa lomba- lomba, dari mewarnai, menggambar, membuat layang-layang sampai menulis. Lalu, ada juga parlemen remaja, forum anak, dan lain-lain.

Project apa yang yang sedang digarap oleh YKAI dan siapa saja stake holder nya? Apa-apa saja target serta sasaran pencapaian project ini?

Project yang sedang digarap saat ini yaitu bantuan pendidikan untuk siswa SMA bekerjasama dengan  PT Protelindo. Lalu ada juga Academic Program dan Beasiswa Perguruan Tinggi bekerjasama dengan Colruyt Belgia dan Program program pelatihan dan webinar dengan berbagai pihak yang terkait. Dengan Colruyt ini, peserta beasiswanya mendapatkan kesempatan magang di Belgia.

Selain itu YKAI juga sedang terlibat project dengan Minderoo, Australia bekerjasama dengan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Stake holder terkait beragam, mulai dari donor, sekolah, orang tua siswa, siswa, mitra YKAI, Guru, Cabang YKAI.

Apa yang dikerjakan?

Kami membuat aplikasi parenting yang ditujukan pada guru-guru PAUD.  Memang awalnya Minderoo yang membuka diri mengajak kerjasama. Kami mengajukan proposal, dan diterima.

Dalam pandangan Anda, apa tantangan terbesar dalam mengentaskan masalah-masalah seputar anak di Indonesia?

Tantangan terbesar adalah kesadaran anak, orang tua dan masyarakat yang masih kurang dalam hal permasalahan anak. Misalnya dalam hal pendidikan,  literasi informasi dan media serta kurangnya sosialisasi kepada anak, orang tua dan masyarakat, misalnya tentang kekerasan terhadap anak, kekerasan seksual, bentuk-bentuk pekerja anak, traficking dan lain-lain. Selain itu dampak sosial media juga saat ini sangat besar sehingga diperlukan penyadaran pada anak, orang tua dan masyarakat melalui sekolah dan juga stake holder  terkait.

Berdasarkan pengalaman Anda di YKAI, bagaimana pola partnership diterapkan  untuk mengatasi tantangan-tantangan itu?

Tentunya tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga namun harus bermitra dengan banyak pihak seperti pemerintah, NGO, masyarakat dan juga donor. Perlu ada kemitraan dan harus menjaga kemitraan tersebut. Selain itu, perlu ada pemetaan masalah dan stategi penanganannya. Selain itu kami juga belajar bagaimana mengenal mitra karena antara satu mitra dengan yang lain berbeda dan kami harus menyesuaikan.

Banyak peristiwa yang mengesankan bekerja pada YKAI karena bisa mempunyai kesempatan untuk ikut pelatihan, penelitian di beberapa wilayah, berhubungan dengan banyak mitra baik donor dari dalam dan luar negeri, sekolah dan masyarakat dan dituntut untuk banyak belajar untuk menangkap peluang-peluang dan mengatasi tantangan.

Lalu ada pengalaman bagaimana kami mengadakan Training Workshop on Child Protection. Awalnya kami direkrut sebagai wakil dari Asia, dengan 5 tema yang berbeda. Dari tema tentang anak jalanan, trafficking, disabilitas, lingkungan dan drugs. Yang menarik, pendana kegiatan ini sebetulnya adalah AIREC dari USA. Tetapi karena dari Iran tidak mau jika sumber dananya dari AS, maka kami buatlah agar dana itu berasal dari Lembaga FIDOKOR di Tajikistan.

Pameran dan Sosialisasi Ke Berbagai Sekolah

Dari pengalaman mengikuti mentoring Partnership-ID pada bulan Juli yang lalu, manfaat apa yang paling terasa dan berguna untuk mendukung kegiatan YKAI dan Anda di masa yang akan datang?

Dari pengalaman mengikuti partnership academy, saya banyak mendapat pengetahuan tentang pola pola kemitraan serta solusi permasalahan yang dihadapi selalin itu belajar bagaimana  memelihara partner, perbaikan kemitraan dan keberlanjutan dengan pihak donor. Kemitraan sangat dibutuhkan untuk menjaga hubungan baik dengan donor dan mitra kerja untuk hubungan yang lebih baik.

Terakhir, apa kiatnya YKAI dapatkan kepercayaan dari begitu banyak lembaga donor, terutama dari luar?

Pertama adalah soal legalitas. Ini harus dipenuhi. Kedua soal kapabilitas lembaga. Pertanyaannya selalu apa project serupa yang pernah dikerjakan. Mitra luar umumnya mencari mitra lokal yang punya pengalaman sejenis. Tiga, penulisan proposalnya. Tim kami kecil, jadi melibatkan semuanya. Semua terjun. Empat, kemampuan melobi dari pimpinan. Lima, menjaga kepercayaan, transparansi, terutama laporan keuangan. Lalu, kelanjutan program. Selalu mereka tanya itu juga. Setelah kami tinggalkan, apa yang akan dilanjutkan? Lakukan itu berulang-ulang… seperti yang kami lakukan dengan UNICEF Disinilah kepercayaan itu dibangun…

Open chat