Kamis, 16 Desember 2021

Webinar dimulai dengan sambutan Yayan Cahyana dari Indonesia Business Link, yang memperkenalkan IBL sebagai institusi yang lahir dari keprihatinan para founder saat terjadinya krisis 1998. Adanya krisis integritas mendorong founder membentuk IBL, dengan sasaran para pemuda sebagai tulang punggung masa depan. Program-program pun lahir dan diarahkan guna mendukung social entrepreneur.  Sudah 3000 an pemuda diikutkan dalam berbagai program pelatihan IBL, dari program “Muda Trampil” (Mojokerto), “Empower Youth for Works”, kerjasama dengan Oxfam yang digelar di Indramayu. Serial diskusi memang digelar berkala, khususnya sebagai antisipasi terhadap berbagai perkembangan dan trend bisnis berkelanjutan di masa yang akan datang. Perubahan iklim dan kaitannya dengan bisnis berkelanjutan, menjadi salah satu bentuk antisipasi IBL saat ini.

Nancy Ravenska Pasaribu dari Citi Indonesia melengkapi dengan sambutan berikutnya. Ancaman perubahan iklim dinilai nyata, dan memerlukan peran bersama menghadapinya. Ekonomi sirkular adalah salah satu jawabannya. Tentang potensi, Nancy mengutip Bappenas yang mencatat efek ekonomi sirkular pada terjadinya pengurangan 19,3 juta ton CO2, mengurangi sampah hingga 50% pada 2030, dan seterusnya. Program “Skill Youth” disebutnya sebagai contoh dari berbagai program Citi Group lainnya yang mendukung energi hijau dan solusi -solusi masa depan lainnya yang berbasis komunal.

Dipandu oleh Nia Sarinastiti sebagai moderator, paparan pertama disampaikan oleh Rahadian Bagiyono, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia memaparkan realita perubahan iklim global, berbagai upaya global menghadapinya dan komitmen Indonesia untuk melaksanakan adaptasi dan mitigasi yang diupayakan.  Ada 5 sektor di Indonesia dalam upaya berkontribusi dalam mitigasi efek gas rumah kaca dunia. Sektor kehutanan, tentu saja, masih menjadi yang terbesar. Sektor energi menjadi berikutnya, dengan berbagai skenarionya.

Adaptasi bermuara pada soal ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan penghidupan, serta ketahanan lansekap. Intinya adalah menjaga dan mempertahankan agar perubahan iklim jangan sampai mengganggu ketahanan bangsa dalam 3 hal itu. Pemerintah sendiri, ujar Rahadian, telah memperinci turunan ketiga ketahanan itu dalam berbagai target dan program. Nah, dalam kerangka itulah, muncul peluang, dari berbagai program mulai dari Kampung Iklim hingga berbagai program tapak lainnya.

Yanti Triwardiantini, founder Partnership-ID dan board IBL, menyampaikan paparan berikutnya. “Ekonomi sirkular itu relatif agak rumit, handbook nya tebal-tebal, sehingga bagi teman-teman di lapangan, hal ini dapat membuat patah semangat”, ujarnya memberi gambaran. Memang banyak tantangan dan diperlukan upaya sinergis untuk menumbuhkan eco-sosio preneurship, yang bisa menjadi salah satu perwujudan ekonomi sirkular. Dalam pandangan founder Partnership-ID ini, eco-socio preneurship sendiri merupakan kegiatan bisnis yang berbasis lingkungan hidup dan sosial, terfokus pada pengurangan dampak kerusakan lingkungan hidup, memastikan tujuan bisnis memenuhi kebutuhan shareholder & stakeholder, jangka panjang dan berkelanjutan.

Jadi, sebagai bentuk wirausaha yang berkelanjutan, agendanya bersinggungan agenda global mau pun local, serta tentu saja, melibatkan berbagai pihak (multi sector, multi stake and share holder). Jelas, kemitraan multi pihak (Pemerintah, Swasta, LSM, universitas, masyarakat) menjadi kata kunci. KEMITRAAN MULTI-PIHAK. PBB sendiri mengakui hal itu, karena pada tahun 2015, konsep 3P (Profit [kepentingan Ekonomi], People [kepentingan Manusia/Sosial], Planet [pelestarian Lingkungan]) dari pembangunan berkelanjutan, dilengkapi menjadi 5P, dengan Peace (kedamaian & keadilan) dan Partnership (kemitraan).

….. tahun 2015, konsep 3P (Profit [kepentingan Ekonomi], People [kepentingan Manusia/Sosial], Planet [pelestarian Lingkungan]) dari pembangunan berkelanjutan, dilengkapi menjadi 5P, dengan Peace (kedamaian & keadilan) dan Partnership (kemitraan)…”

Seorang Ecopreneur, Sociopreneur atau Ecosociopreneur yang berwawasan Ekonomi Sirkular, membuat produk atau layanan di-bidang yang mencakup hal-hal dibawah ini: PIKIR-ULANG, PAKAI-ULANG, SIKLUS MANFAAT BARU,  SIKLUS ULANG, KURANGI PEMAKAIAN. Indonesia pun mulai bergerak ke arah itu, karena berbagai contoh pun dapat digelar. Dari pewarna bahan alami dan makanan berbahan mangrove di kawasan Muara Gembong, hingga menampilkan profil M. Salman yang memberdayakan petani kapulaga di Bandung Barat.

Oleh karenanya, menjadi ENTERPRENEURS tidak mudah dan perlu kegigihan, apalagi menjadi seorang ECOSOCIO-PRENEURS, karena harus memiliki nilai-tambah bukan sekedar profit semata. Diperlukan bukti agar dapat maju bersama yang akan menguatkan rekam jejak sehingga memudahkan dukungan multi-pihak.

Best practise evidences datang dari M. Bijaksana Junerosano, inisiator berbagai Gerakan Anti sampah (tim inti forum Bandung Juara Bebas Sampah, Bergerak Untuk #IndonesiaBersih #BebasSampah, WCD Indonesia & BebasSampah.ID, Indonesia Circular Economy Forum [indonesiacef.id]). Bicara ekonomi sirkular, restorasi ekosistem sudah menjadi agenda PBB dan inilah peluang bagi pemuda untuk mengambil peran. Ada 10 langkah yang dipandu bahkan oleh PBB, mulai dari memilah sampah (membentuk perilaku) sampai  berinvestasi pada pemeliharaan hutan dan carbon trading. Untuk itu panjang lebar ia menyebutkan peluang dari bisnis terkait restorasi ekosistem, bahkan ia merincinya dalam paparan “8 Ekosistem Kunci yang Dapat Direstorasi & Contoh Aksi yang Dapat Dilakukan”.

Soal potensinya, sejak saat ini hingga 2030, restorasi 350 juta hektar ekosistem darat dan perairan yang terdegradasi dapat menghasilkan USD 9 triliun dalam bentuk jasa ekosistem. Restorasi juga dapat menghilangkan 13-26 gigaton gas rumah kaca dari atmosfer. Ini, tentu saja, peluang ekonomi yang amat besar.

Pesan utama Rosano adalah: kuasai isu-isunya. Dari sana akan muncul peluang, dan karena menguasai isunya, maka peluang berubah menjadi potensi dan nyata. Contohnya adalah W4C yang kini telah menjadi penyedia layanan pengolahan limbah secara holistic dari hulu hingga hilir, berbasis riset. Dari daftar klien W4C, mulai Kementrian PUPR hingga World Bank, jelas terpampang bahwa sampah dan limbah telah diubah menjadi berbagai peluang.

Menariknya, Rosano mengambil pertanyaan dari peserta yang mengeluhkan kotornya sungai Cibitung dengan pencemaran parah, sebagai contoh bagaimana masalah menjadi peluang. Ia kemudian membandingkannya dengan kasus sungai-sungai di Bali yang semula kotor dan suram, lewat kerja keras “SungaiWatch” kembali menjadi bersih, bahkan mendulang dukungan dan simpati.  https://www.instagram.com/sungaiwatch?utm_medium=copy_link

Ujar Rosano, masalah selalu ada. Untuk itu, jangan menunggu, tak perlu salahkan pemerintah dan swasta karena mereka punya masalah dan keterbatasan. Mulailah untuk membersihkannya sendiri, dan itulah yang dilakukan oleh  Sungaiwatch. Akhirnya dibanjiri bantuan dari bahkan luar negeri. Kekuatan negosiasi pun, timbul.  Pada korporat bisa dibilang, agar jangan lagi mengotori sungai dan itu dipatuhi. Begitulah seterusnya. Memang tidak mudah tapi perlu kita lakukan. Dengan retorik, Rosano mengibaratkan, memadamkan api tidak perlu menunggu damkar datang. Lakukan saja dulu, bantuan pasti akan datang, begitu tukas Rosano menutup diskusi siang itu.

Yanti Triwardiantini menutup perbincangan dengan menyatakan, sekecil apapun yang dilakukan jika kolektif maka akan jadi kekuatan yang besar. Maka yang sudah tumbuh bisa menggandeng yang baru tumbuh, sehingga kemitraan menjadi kata kuncinya.

Open chat