Yanti Triwardiantini, founder dan CEO Partnership-ID

Wawancara

Ada hal yang terungkap dari pelaksanaan program partnership dibawah Partnership-ID. Mekanisme kontrol yang dimiliki, mampu memetakan efektifitas posisi para mitra dalam sebuah kegiatan. Layaknya sebuah proses MRI dalam mendeteksi kesehatan. Bagaimana hal itu dimungkinkan? Ikuti selengkapnya dalam wawancara Teguh Iman Perdana dengan Yanti Triwardiantini, founder dan CEO dari Partnership-ID. Perbincangan berkisar dari hasil-hasil Partnership Academy, hingga efektifitas mekanisme kontrol yang dimiliki. Selengkapnya, adalah berikut ini.

Atas dasar pertimbangan apa pembagian tiga kelompok besar minat peserta dilakukan pada Partneshio Academy (PA) yang baru berlangsung Maret lalu? Apakah pembagian 3 minat besar ini juga berlangsung secara konsisten dalam kurikulum PA sejak awal digagas?

Pembagian 3 kelompok besar peserta, dilakukan sejalan dengan 3 pilar program Oxfam sebagai penyandang dana program ini. Pembagian ini sudah diarahkan sejak awal digagas.

Dari seratusan peserta yang mendaftar akhirnya terpilih 30 peserta lewat seleksi ketat. Faktor-faktor apa saja yang menentukan keterpilihan mereka dalam PA kali ini?

Ada beberapa kriteria yang diterapkan, antara lain bidang yang ditekuni oleh lembaga yang mendaftar, sejalan dengan 3 pilar program Oxfam. Selain itu juga dinilai faktor-faktor terkait dengan minat dan komitmen calon peserta dalam mengikuti program dan menerapkan ilmu2 dari pelatihan dalam program sehari-harinya.

Tindak lanjut dari PA ini adalah mengadakan grup-grup mentoring diantara para eks peserta. Hal-hal apa saja yang akan menjadi cakupan kegiatan mentoring tersebut? Adakah semacam pelaksanaan project kemitraan bersama yang akan dilaksanakan oleh para peserta?

Dalam kegiatan mentoring, semua peserta membuat perencanaan atas Langkah-langkah atau program peningkatan kemitraan mereka pada program yang mereka pilih masing-masing. Selama 3 bulan, para peserta menjalani proses latihan dan mencatat pengalamannya, yang nantinya akan diakumulasikan dalam Laporan Akhir tertulis (berupa artikel). Selama 3 bulan tersebut, ketiga grup akan mendapat sesi mentoring secara khusus dengan mentor-mentor: Bu Erna (grup keadilan gender),  Kemal (keadilan ekonomi), dan saya (keadilan dalam kondisi krisis). Setelah lulus dari PA di bulan Juni yang akan datang, para peserta kembali ke tugas masing-masing. Tidak ada pelaksanaan proyek.

“Keadilan dalam kondisi krisis” itu terdengar lebih spesifik. Bisa dijelaskan lebih jauh, maksud dari topik itu?

Jadi apa yang dimaksud keadilan di masa krisis, ya, pemahaman saya yang basic adalah bagaimana memastikan jika terjadi suatu bencana,….. segala bantuan, pemberdayaan, recovery, dan sebagainya itu, bisa diberikan secara adil. Jadi dalam grup itu, memang merupakan LSM-LSM yang bergerak di dalam tanggap bencana.

Soal-soal begini memang kerap jadi masalah krusial..

Betul. Sehingga begini. Bukan cuma kali ini saja. Pada waktu kita punya program sebelumnya dengan Oxfam, kita juga men training beberapa puluh perusahaan atau LSM yang memang sudah bermitra dengan Oxfam. Saya lagi-lagi mendapat (materi) Right for Justice in Time of Crisis. Dan ternyata di Indonesia ini ada jejaring LSM untuk kebencanaan. Saya lupa persisnya, dan itu terdiri dari lembaga-lembaga LSM yang berasal dari berbagai tempat, yang kemudian jika terjadi bencana, mereka itu bergerak bersama-sama. Mereka sudah tahu tugas masing-masing… Keren bukan? Mereka bahu membahu, jadi tidak ada overlapping. Namun ternyata itu pun masih tidak gampang…

Artinya ini mempertegas saja bahwa Partnership ID siap melakukan tailoring made, jenis-jenis pelatihan yang diminta oleh klien…

Oiya. Dalam setiap kasus, kita siap melakukan tailor made. Tetapi sebelum melakukan tailor made, kita biasanya membekali mereka dengan ilmu general yang bersifat generik. Contohnya adalah partnership cycle. Apa pun proyeknya , semua sudah tercakup dalam 13 langkah itu. Nah, itu bukan ciptaan kami. (13 langkah itu) dirangkum oleh teman-teman secara global, oleh Partnership Broker Association, dimana saya adalah salah satu yang accredited  dari sana. Maka kami mengadopsi teori-teori semacam itu untuk berbagai negara. Kami juga kongres setiap tahun, untuk kemudian saling meng updated. Jadi, untuk pertama kali mungkin baru ketemu 11 langkah. Ternyata setelah sekian tahun kita sering ketemu, sekarang jadi 13 langkah. Itu suatu metodologi yang kemudian sampai sekarang masih saya adopsi terus.

Lalu kemudian bagaimana mengatur efektifitas dari suatu program kemitraan. Dulu misalnya, caranya mudah, yakni dengan melakukan interview satu-satu, tapi sebetulnya ada kerangkanya. Kami memberi tahu, mau cara manual, survey, mau pun massif. Kami punya mitra di Belanda untuk melakukan hal itu. Hasilnya menarik jika sudah dicek. Ternyata, bisa. ketahuan. Jadi misalnya ada sebuah gerakan, dari 20 mitra, apa posisi mereka masing-masing. Semua terekam. Seperti MRI atau Citi Scan.

Dengan parameter-parameter itu tadi ya?

Ya, sudah beberapa kali kami terapkan pada klien dan akhirnya mereka keep coming back. (tip)

Tags: