Menara Kadin, 9 September 2021

Perkumpulan “Rantai Tekstil Lestari” , gabungan stake holder dunia industri di Indonesia yang peduli dengan isu pembangunan keberlanjutan dan sirkular ekonomi diluncurkan dalam sebuah acara sederhana di Menara Kadin, Kamis 9 September 2021 ini. Acara peluncuran didahului oleh forum diskusi yang menghadirkan berbagai pihak yang memaparkan berbagai hal seputar perkembangan dan prospek ekonomi sirkular di Indonesia.

Pada kesempatan pertama diskusi yang dipandu oleh moderator Anya Sapphira (anggota Dewan Pengawas RTL) ini tampil Elis Masitoh (dir. ITKAK Kemenperin) yang secara ringkas dan padat membedah road map Kemenperin terhadap pengembangan ekonomi sirkular, disusul Pramit Chandra (Business Unit Director IDH Sustainable Trade Initiative) yang menguraikan perjalanan tumbuh nya ekosistem ekonomi sirkular di lingkungan industri tekstil Indonesia. Dubes Denmark Lars Bo Larsen juga tampil memaparkan pengalaman kerajaan di Skandinavia itu dalam mengembangkan ekonomi sirkular di negaranya.

Secara simultan, Bandie Widiarto dari Bank Indonesia menjabarkan dukungan BI pada tiga pilar utama: kebijakan moneter, digitalisasi system pembayaran serta relaksasi makro prudensial. Munculnya berbagai industri hijau dari kalangan UMKM hasil kebijakan BI tersebut diyakini sebagai bagian tak terpisahkan dari kesuksesan BI menjalankan 3 pilar tersebut.

Suasana peluncuran “Rantrai Tekstil Lestari”, di Menara Kadin

Sesi diskusi diakhiri oleh paparan Nancy Margried, CEO @batikfractal yang menyimpulkan adanya 5 prinsip SDGs yang telah berjalan dari kinerja perusahaan selama 12 tahun mendampingi pengrajin batik menghasilkan kreasi batik berbasis fraktal. Catatan penting dari Nancy adalah masih sulitnya para pengrajin mengakses produk hasil industri tekstil yang tergolong sustainable dan itulah PR bersama

Di ujung diskusi, moderator Anya Sapphira (anggota Dewan Pengawas RTL) melontarkan pertanyaan pamungkas yang ditujukan pada ibu Elis Masitoh, tentang apa yang menjadi tantangan terbesar sirkular ekonomi, dan dijawab pada tiga isu utama: komitmen pelaku industri tekstil untuk mendukung SDGs dan sirkular ekonomi, pemenuhan skala keekonomian bagi pelaku usaha dan akhirnya problem collecting pada limbah hasil industri tekstil terkait dengan letak geografis dan iklim di Indonesia.

Setelah forum diskusi dengan para pembicara baik virtual maupun yang hadir di ruang pertemuan Menara Kadin tersebut, acara berlanjut dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh sejumlah wakil dari perkumpulan RTL. Forum kemudian juga mempersilakan ibu Erna Witoelar sebagai tokoh lingkungan dan partnership di Indonesia untuk memberikan pandangannya terhadap isu sirkular ekonomi.

Sambutan Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid

Setelah itu acara bergulir dengan menghadirkan ungkapan selamat dan harapan dari sejumlah tokoh di tanah air. Mulai dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid, hingga sejumlah pelaku utama industri tekstil di tanah air. Secara umum, berbagai tokoh ini menyambut baik kehadiran RTL dan mengungkapkan kepercayaannya akan peran strategis RTL di masa depan industri tekstil Indonesia. Besarnya tantangan diakui sejalan dengan terbukanya peluang dan disanalah RTL diharapkan dapat menjadi pusat perkembangan sirkular ekonomi maupun industri tekstil Indonesia yang semakin ramah lingkungan.

Acara ini juga mendapat liputan sejumlah media nasional, diantaranya adalah sebagaimana tercantum dibawah ini:

https://money.kompas.com/read/2021/09/09/140500526/lembaga-industri-hulu-hilir-tekstil-bentuk-asosiasi-rtl-apa-itu-

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210909/257/1440317/sembilan-pelaku-tekstil-berkongsi-dorong-keberlanjutan-industri

https://www.wartaekonomi.co.id/read359677/menyongsong-sustainable-textile-industri-dan-pemerhati-luncurkan-rantai-tekstil-lestari